Mataredaksi.com, BOGOR – Timnas Tanjung Verde terus menulis kisah luar biasa pada debut mereka di ajang Piala Dunia FIFA 2026. Tim berjuluk Tubarões Azuis atau Hiu Biru itu memastikan langkah ke babak 32 besar setelah finis sebagai runner-up Grup H usai bermain imbang tanpa gol melawan Arab Saudi di Stadion Houston, Texas, Amerika Serikat, Sabtu (27/6/2026) WIB.
Hasil tersebut sudah cukup membawa Tanjung Verde mendampingi Spanyol lolos ke fase gugur. Mereka pun mencatat sejarah sebagai tim debutan pertama yang berhasil melewati fase grup Piala Dunia sejak Slovakia pada 2010, sekaligus menjadi negara Afrika pertama yang melakukannya sejak Ghana pada 2006.
Pada babak 32 besar atau fase gugur (knockout), Tanjung Verde sudah menunggu tantangan besar karena Ryan Mendes dan kolega akan menghadapi juara bertahan, yakni Argentina.
Bubista: Kami Percaya Segalanya Mungkin
Pelatih Pedro Leitão Brito alias Bubista menyambut pencapaian bersejarah itu dengan penuh rasa syukur. Ia menegaskan timnya tidak pernah membatasi mimpi sejak datang ke turnamen ini. “Bagi kami, tidak ada yang mustahil”, ujar Bubista.
Menurutnya, salah satu tujuan utama Tanjung Verde mengikuti turnamen ini adalah memperkenalkan negara mereka kepada dunia melalui sepak bola.
“Sejak awal kami ingin menunjukkan negara kami kepada seluruh dunia. Kesempatan menghadapi Argentina di babak gugur merupakan kebanggaan besar bagi negara kami, terlepas dari bagaimana hasil pertandingannya nanti”, katanya.
Perjalanan Tanjung Verde di fase grup memang layak mendapat apresiasi tinggi. Skuad “Hiu Biru” menutup penyisihan tanpa sekalipun menelan kekalahan setelah meraih tiga hasil imbang, termasuk sukses menahan Spanyol pada laga pembuka.
Catatan tersebut menjadikan Tanjung Verde tim debutan pertama yang tidak terkalahkan di fase grup sejak Senegal melakukannya pada Piala Dunia 2002.
Deroy Duarte Merasa Seperti Bermimpi
Gelandang Deroy Duarte mengaku pencapaian luar biasa tersebut terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan. “Sejujurnya ini luar biasa. Rasanya seperti sedang bermimpi”, kata Duarte dengan penuh kegembiraan.
Ia berharap seluruh masyarakat Tanjung Verde ikut menikmati momen bersejarah tersebut sebelum tim mengalihkan fokus ke pertandingan berikutnya.
“Pertama-tama kami ingin merayakan keberhasilan ini. Kami berharap seluruh rakyat Tanjung Verde ikut berbahagia. Setelah itu kami akan memikirkan pertandingan melawan Argentina”, ujarnya.
Meski menyadari kualitas bintang lawan yang akan mereka hadapi, Duarte tetap menyimpan keyakinan besar. “Ini memang pertandingan yang sangat sulit, tetapi kami harus percaya. Dalam sepak bola, segalanya mungkin terjadi”, tambahnya.
Arab Saudi Akui Lemah di Lini Depan
Di sisi lain, Arab Saudi kembali gagal melampaui fase grup dalam enam penampilan terakhir mereka di Piala Dunia. Meski berhasil mencatatkan clean sheet pertama di putaran final sejak mengalahkan Belgia pada 1994, skuad The Green Falcons (“Elang Hijau”) tetap gagal menghindari eliminasi akibat tumpulnya lini serang.
Sepanjang fase grup, tim asuhan Georgios Donis hanya mampu melepaskan 17 tembakan dengan total expected goals (xG) sebesar 1,2. Angka ini menjadi salah satu catatan ofensif terendah mereka sepanjang sejarah keikutsertaan di ajang Piala Dunia.
Donis Evaluasi Kreativitas Serangan Green Falcons
Pelatih Georgios Donis mengakui timnya sangat kesulitan menciptakan peluang berbahaya di depan gawang lawan. “Kami tampil sangat buruk dalam menciptakan peluang. Dengan permainan seperti itu, kami tidak mungkin memenangkan pertandingan”, ujar Donis.
Ia menilai persoalan utama Arab Saudi sepanjang turnamen berada pada produktivitas lini depan yang kurang tajam. “Masalah terbesar kami adalah kreativitas dalam membangun serangan. Itu terlihat jelas sepanjang turnamen dan menjadi pekerjaan rumah yang harus segera kami benahi”, tutupnya. (MR-02)






