Mataredaksi.com, JAKARTA — Penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai menjadi motor utama pertumbuhan fiskal di tengah ketidakpastian global. Ini membuktikan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga September 2025 tetap solid dan terjaga.
Penerimaan Naik di Atas Target
Kepala Subdirektorat Humas dan Penyuluhan Bea Cukai, Budi Prasetiyo, mengatakan bahwa penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai mencapai Rp221,3 triliun, atau 73,4 persen dari target APBN 2025.
Angka itu tumbuh 7,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Menurut Budi, peningkatan ini terjadi karena naiknya bea keluar dan cukai, serta tingginya aktivitas impor barang modal dan investasi.
Selain itu, produksi hasil tembakau tetap stabil, sehingga membantu menjaga performa penerimaan negara. “Secara keseluruhan, tren penerimaan Bea Cukai menunjukkan arah positif dan berkontribusi besar terhadap APBN”, ujar Budi di Jakarta dilansir Mataredaksi, Kamis (6/11/2025).
Pengawasan Makin Efektif
Bea Cukai juga memperkuat pengawasan di seluruh wilayah. Hingga akhir September 2025, petugas menggagalkan penyelundupan 11,1 ton narkotika dan menyita 816 juta batang rokok ilegal.
Sebagian besar pelanggaran melibatkan sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret putih mesin (SPM) tanpa pita cukai. Selain itu, petugas berhasil menindak peredaran sabu dan ganja dalam jumlah besar.
Keberhasilan ini menegaskan peran Bea Cukai dalam melindungi masyarakat dan menjaga perekonomian nasional. “Kami terus memperkuat koordinasi dan memperketat pengawasan di lapangan”, tegas Budi.
Sinergi Lintas Lembaga
Kinerja positif itu sejalan dengan meningkatnya kolaborasi antara Bea Cukai, Kementerian Keuangan, Polri, dan aparat penegak hukum lainnya. Kerja sama tersebut mempercepat proses penindakan dan memastikan setiap pelanggaran segera ditindaklanjuti. “Kami mengapresiasi dukungan semua pihak, termasuk masyarakat, yang ikut menjaga penerimaan negara”, ujar Budi.
Selain itu, pemerintah terus memperkuat sistem digital pengawasan untuk memastikan setiap aktivitas impor dan ekspor berjalan transparan. Dengan begitu, APBN tetap kredibel, adaptif, dan mampu menjaga keseimbangan ekonomi nasional. (MR-03)






