BMKG Tegaskan Pentingnya Informasi dari Hulu ke Hilir Hadapi Bencana Hidrometeorologi

WEBINAR EARLY WARNING - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani saat menjadi pembicara kunci dalam webinar “Early Warning, Early Action: Kilas Balik Bencana Hidrometeorologi sebagai Basis Rekomendasi Aksi Mendatang,” yang diselenggarakan secara hybrid oleh Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (17/12/2025). (Sumber foto: Dok. Humas BMKG Pusat/Mataredaksi)

Informasi Andal Jadi Pilar Mitigasi Bencana

Mataredaksi.com, YOGYAKARTA –Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, menekankan bahwa pengelolaan informasi yang andal dan berkelanjutan dari hulu ke hilir menjadi fondasi utama dalam mitigasi bencana hidrometeorologi. Informasi yang kuat mendukung sistem peringatan dini, langkah mitigasi, dan pengambilan keputusan yang cepat dan efektif.

Webinar Early Warning, Early Action di UGM

Faisal menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara kunci dalam webinar “Early Warning, Early Action: Kilas Balik Bencana Hidrometeorologi sebagai Basis Rekomendasi Aksi Mendatang” yang digelar hybrid oleh Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (17/12/2025).

https://i0.wp.com/content.bmkg.go.id/wp-content/uploads/Screenshot-159-1.png?ssl=1

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bencana di Indonesia masih didominasi banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem di hampir semua wilayah. Siklon tropis seperti Cempaka, Seroja, dan Senyar memperparah intensitas hujan ekstrem.

“Tren bencana terus meningkat setiap tahun. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan harus terus diperkuat”, tegas Faisal dilansir Mataredaksi, Kamis (18/12/2025).

Peran Hulu hingga Hilir dalam Sistem Peringatan Dini

BMKG bertindak di hulu sebagai penyedia data dan peringatan dini berbasis sains. “Kami mengumpulkan data, kemudian menganalisis dengan dukungan big data. Selanjutnya, Disaster Management Command Center menetapkan langkah-langkah yang harus dilakukan”, jelasnya melalui Zoom.

https://i0.wp.com/content.bmkg.go.id/wp-content/uploads/Screenshot-140.png?ssl=1

Hasil analisis kemudian disebarluaskan melalui kanal resmi, media sosial, dan aplikasi perpesanan. Tujuannya agar masyarakat tidak hanya menerima pesan, tetapi segera melakukan aksi nyata.

“Early warning dari BMKG tidak berhenti di pesan. Harapannya masyarakat bisa melakukan early action menuju Zero Victim”, tambah Faisal.

Infrastruktur dan Teknologi Pendukung

BMKG mengoperasikan 191 Unit Pelaksana Teknis (UPT) di seluruh Indonesia dengan 10.800 peralatan operasional. Lembaga ini juga memiliki 44 radar cuaca berstandar WMO, stasiun Global Atmosphere Watch (GAW), dan dua superkomputer di Jakarta dan Bali.

https://i0.wp.com/content.bmkg.go.id/wp-content/uploads/Screenshot-4.png?ssl=1

Sistem peringatan dini multi-bahaya seperti InaTEWS, MEWS, dan TCWC membantu memberikan peringatan cepat dan akurat. Selain itu, BMKG menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengurangi risiko banjir dan kebakaran hutan di wilayah rawan bencana.

Edukasi dan Kolaborasi

BMKG meningkatkan kapasitas masyarakat melalui Sekolah Lapang Cuaca, literasi iklim untuk generasi muda, BMKG Goes to School, dan kunjungan edukatif ke kantor BMKG. Materi edukasi dan video mitigasi juga tersedia di kanal resmi BMKG.

Faisal menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. “Pembangunan tangguh bencana memerlukan sinergi pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat”, katanya. Ia mengapresiasi peran UGM dalam mendukung penguatan kapasitas kebencanaan melalui kuliah lapangan, magang, dan riset bersama.

Image 4 of 6

Webinar Menjadi Forum Strategis

Dekan Fakultas Teknik UGM, Selo, menilai webinar ini sebagai forum strategis untuk merumuskan rekomendasi tanggap bencana. “Kami berharap rekomendasi ini bisa menjadi masukan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk memperkuat kesiapsiagaan dan ketahanan bencana di Indonesia”, katanya.

Webinar diikuti peserta dari pemerintah, akademisi, mahasiswa, komunitas, dan praktisi, baik secara luring maupun daring. Narasumber lintas sektor hadir, termasuk Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), akademisi, dan panelis internasional. Peserta terdiri dari unsur pemerintah, akademisi, mahasiswa, komunitas, dan praktisi, baik luring maupun daring. (MR-03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *