Mataredaksi.com, BOGOR – Pelatih Timnas Ghana, Carlos Queiroz mengungkap alasan di balik ketegangan yang melibatkan gelandang Inggris, Jude Bellingham saat laga Grup L Piala Dunia FIFA 2026. Menurutnya, insiden tersebut bermula ketika ia mencoba menenangkan pemain muda Inggris itu menjelang turun minum.
Pertandingan yang berakhir imbang tanpa gol di Stadion Boston, Foxborough, Massachusetts, Amerika Serikat, Rabu (24/6/2026) dini hari WIB, memang berlangsung dengan tensi tinggi. Inggris kesulitan menembus pertahanan rapat Ghana, sementara rasa frustrasi mulai menjangkiti sejumlah pemain The Three Lions.
Salah satu yang paling menyita perhatian adalah aksi Jude Bellingham. Gelandang berusia 22 tahun itu beberapa kali terlibat duel keras sepanjang babak pertama. Ketegangan memuncak sesaat setelah peluit turun minum berbunyi ketika pemain dan staf Ghana mendatangi Bellingham di sekitar lorong menuju ruang ganti.
Queiroz Beberkan Awal Perselisihan
Queiroz mengaku tidak berniat memicu keributan. Pelatih berpengalaman asal Portugal tersebut menjelaskan bahwa dirinya hanya ingin meredakan emosi Bellingham setelah sebuah tekel keras yang berisiko kartu.
Menurut Queiroz, gelandang Inggris itu beruntung karena wasit tidak memberikan hukuman lebih berat atas pelanggaran tersebut. “Saya mendekatinya untuk meminta dia menenangkan diri setelah tekel kerasnya. Menurut saya, wasit bisa saja melayangkan kartu kuning kedua untuknya”, ujar Queiroz.
Namun, upaya tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Queiroz mengklaim Bellingham merespons dengan kata-kata yang tidak menyenangkan sehingga percakapan singkat itu berubah menjadi adu argumen.
“Dia memberikan reaksi yang buruk dan mengucapkan beberapa kata yang tidak pantas. Dari situlah semuanya bermula”, kata Carlos Queiroz dilansir dari hitc.com.
Ghana Sengaja Ganggu Ritme Inggris
Terlepas dari insiden yang melibatkan Jude Bellingham, Carlos Queiroz mengakui bahwa Ghana memang menerapkan strategi khusus untuk mengganggu permainan Inggris.
Menurut dia, timnya berupaya membatasi ruang gerak para pemain kreatif lawan sekaligus memaksa Inggris kehilangan ritme permainan sejak awal laga. Karena itu, para pemain Ghana terus menjaga disiplin posisi dan menutup ruang yang biasanya skuad Inggris gunakan untuk membangun serangan.
Pelatih 73 tahun asal Portugal menilai pendekatan taktis tersebut berjalan sesuai rencana timnya. “Salah satu tujuan dalam rencana permainan kami adalah mengganggu kekuatan utama yang Inggris miliki”, ujarnya.
Alhasil, Inggris kesulitan mengembangkan permainan meski mendominasi penguasaan bola sepanjang pertandingan. Bahkan, dominasi 79 persen penguasaan bola dan 19 tembakan tidak cukup untuk membongkar pertahanan Ghana yang tampil rapat serta terorganisasi dengan baik.
Inggris Harus Segera Berbenah
Sementara itu, hasil imbang ini membuat Inggris belum dapat memastikan tiket ke babak 32 besar Piala Dunia FIFA 2026. Meski masih memimpin klasemen Grup L, pasukan Thomas Tuchel wajib meraih hasil positif pada laga pamungkas untuk mengamankan kelolosan.
Karena itu, Inggris tidak memiliki banyak waktu untuk meratapi hasil tersebut. Sebaliknya, Tuchel perlu segera membenahi efektivitas serangan timnya agar setiap peluang dapat berbuah gol.
Selain itu, para pemain juga harus mengontrol emosi ketika menghadapi lawan yang menerapkan permainan disiplin seperti Ghana. Jika Panama menggunakan pendekatan serupa pada pertandingan berikutnya, Inggris kemungkinan besar kembali menghadapi ujian kesabaran yang tidak mudah. (MR-01)






