Mataredaksi.com, BOGOR – Rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor menggelar kegiatan tebar ikan, lepas burung, dan tanam pohon di kawasan Titik Nol Telaga Saat, Puncak, Kecamatan Cisarua, menuai kritik dari pegiat lingkungan dan komunitas konservasi.
Mereka meminta kegiatan penebaran ribuan ikan dibatalkan karena dinilai berpotensi mengancam kelestarian ikan lokal di hulu Sungai Ciliwung. Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup dan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 itu rencananya akan melepas sebanyak 5.544 ekor ikan ke perairan Telaga Saat.
Jumlah tersebut terdiri atas 544 ekor ikan indukan, antara lain ikan mas, grass carp, patin, belida, baung, tawes, dan lele. Selain itu, akan ditebar 5.000 ekor benih ikan tawes, nila, patin, dan lele. Namun, rencana tersebut mendapat sorotan dari Peneliti Ikan Endemik Hulu Ciliwung, Iqbal Mujadid.
Menurutnya, sebagian besar jenis ikan yang akan ditebar bukan merupakan spesies asli kawasan Telaga Saat sehingga berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.
“Jika tetap memaksakan menebar ikan invasif atau ikan asing, berarti Telaga Saat telah berubah fungsi menjadi kolam budidaya. Kondisi itu berisiko merusak ekosistem dan mengancam keberlangsungan ikan lokal”, kata Iqbal, Rabu (3/6/2026).
Dikhawatirkan Memicu Kepunahan Lokal
Iqbal menilai penambahan populasi ikan non-endemik dapat memicu persaingan makanan dan habitat dengan spesies asli yang selama ini hidup di kawasan hulu Ciliwung. Menurutnya, kepunahan suatu spesies umumnya diawali oleh kepunahan lokal yang terjadi secara bertahap di berbagai wilayah.
“Kami menilai pemerintah bukan hanya gagal menjaga kawasan konservasi, tetapi justru berpotensi mempercepat hilangnya spesies asli. Rantai makanan dapat terganggu dan ancaman kepunahan lokal semakin besar”, ujarnya.
Ia mengungkapkan pihaknya bersama sejumlah peneliti tengah menyiapkan artikel ilmiah mengenai kondisi keanekaragaman hayati di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung, mulai dari hulu hingga hilir.
FK3I Tolak Hadiri Kegiatan
Kritik serupa disampaikan Ketua Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Nasional, Dedi Kurniawan.
Dedi memastikan dirinya tidak akan menghadiri kegiatan yang digelar Pemkab Bogor tersebut karena menilai sebagian agenda tidak sejalan dengan prinsip konservasi.
“Kami memilih tidak hadir karena kegiatan tersebut terindikasi bertolak belakang dengan upaya pelestarian lingkungan”, tegasnya.
Sikap serupa juga disampaikan Ketua FK3I Regional Gunung Gede Pangrango Halimun Salak, Ligar. Menurutnya, hingga kini belum ada kejelasan mengenai konsep konservasi yang digunakan dalam kegiatan penanaman pohon, termasuk apakah menerapkan prinsip Menanam, Merawat, dan Menjaga (3M).
Selain itu, ia menyoroti rencana penebaran ikan yang dinilai dapat memperburuk kondisi populasi ikan asli di Telaga Saat. “Tanpa penebaran tambahan pun, ikan asing sudah mendominasi perairan Telaga Saat. Sementara populasi ikan endemik terus menurun dan mendekati kepunahan lokal”, ujarnya.
Minta Edukasi dan Konservasi Diperkuat
Ligar menegaskan bahwa salah satu kekayaan hayati Telaga Saat adalah keberadaan ikan lokal yang menjadi bagian penting ekosistem Sungai Ciliwung.
Ia menilai masih banyak pihak yang belum memahami peran ikan lokal dalam menjaga keseimbangan lingkungan sehingga pelepasan ikan invasif masih sering dilakukan.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu memperkuat edukasi, konservasi, dan advokasi bersama masyarakat serta komunitas lingkungan untuk mencegah hilangnya spesies asli di kawasan hulu Ciliwung.
“Jika kondisi ini terus dibiarkan, generasi mendatang bisa jadi tidak lagi mengenal ikan asli yang selama ini hidup di Sungai Ciliwung”, katanya.
Para pegiat lingkungan berharap Pemkab Bogor meninjau ulang rencana penebaran ikan tersebut dan mengutamakan upaya pelestarian spesies lokal sebagai bagian dari perlindungan ekosistem hulu Ciliwung. (MR-01)







