Mataredaksi.com, BOGOR – Pelatih Massimiliano Allegri meminta publik untuk realistis terkait peluang AC Milan dalam perburuan Scudetto setelah kekalahan 1-0 dari SS Lazio di Stadio Olimpico, Roma, Senin (16/3/2026) dini hari WIB. Allegri juga menjelaskan mengapa penyerang Rafael Leão terlihat kesal ketika digantikan pada menit ke-68.
Kekalahan Memperlebar Jarak dari Puncak
AC Milan awalnya memiliki momentum positif setelah kemenangan di Derby della Madonnina dan hasil imbang Inter Milan melawan Atalanta BC. Kemenangan itu seharusnya memberi Rossoneri peluang menekan persaingan Scudetto.
Namun, Lazio memanfaatkan sisi kanan pertahanan Milan. Gustav Isaksen menyambut umpan panjang dari Adam Marušić dan melewati kiper Mike Maignan, mencetak gol tunggal yang menentukan hasil pertandingan.
“Kami tahu pertandingan ini sulit, apalagi dengan kembalinya suporter Lazio ke stadion. Babak pertama mereka sangat kuat”, ujar Allegri kepada DAZN Italia.
“Kami seharusnya lebih terorganisir dan membuat lebih sedikit kesalahan. Setelah istirahat, kami meningkatkan intensitas dan menyerang lebih agresif, tetapi bola tetap tidak masuk”.
Kekalahan ini membuat keunggulan Inter di puncak klasemen bertambah menjadi delapan poin. Sementara itu, Napoli kini hanya terpaut satu poin dari Milan di posisi ketiga. Bahkan jarak Milan dengan Juventus di posisi kelima hanya tujuh poin dalam perebutan tiket UEFA Champions League.
Allegri Minta Reset Mental
Allegri menegaskan timnya harus segera menekan tombol reset dan kembali fokus pada target realistis musim ini. “Apa yang harus kita lakukan sekarang adalah reset. Orang-orang bicara soal Scudetto setelah menang atas Inter, tetapi kita harus realistis”, kata pelatih.
“Kita harus ingat tujuan utama adalah lolos ke Liga Champions UEFA. Jika tidak, kita berisiko merusak semua yang telah dibangun selama enam bulan terakhir”.
Allegri juga menilai Milan sebenarnya menciptakan sejumlah peluang setelah jeda pertandingan. Namun kesalahan teknis pada babak pertama membuat timnya kesulitan mengejar ketertinggalan.
Reaksi Rafael Leão Saat Diganti
Salah satu momen panas terjadi ketika Allegri menarik keluar Rafael Leão pada menit ke-68. Penyerang asal Portugal itu terlihat kesal dan berjalan sangat lambat menuju touchline.
Bahkan Mike Maignan harus mendorongnya agar segera keluar lapangan. Leão juga menolak pelukan Allegri dan sempat menendang botol di bangku cadangan Milan.
“Leão sedikit kesal karena ada beberapa situasi di mana dia merasa bisa mendapat umpan yang lebih baik. Hal seperti ini bisa terjadi dalam pertandingan”, ujar Allegri.
“Semua pemain ingin menang, terutama untuk menjauh dari para pesaing. Musim masih panjang dan kami harus memperbaiki kesalahan yang terjadi di babak pertama”.
Tantangan Teknis dan Absennya Rabiot
Milan juga kehilangan Adrien Rabiot yang menjalani larangan bermain. Allegri menilai absennya gelandang tersebut cukup memengaruhi keseimbangan tim.
“Kami membuat terlalu banyak kesalahan teknis dan membiarkan terlalu banyak serangan balik. Bahkan sebelum gol terjadi, ada beberapa situasi di mana pemain kami berada terlalu jauh dari bola”, jelasnya.
Setelah turun minum, Milan tampil lebih agresif dan memenangkan lebih banyak duel. Meski demikian, Lazio mampu bertahan dengan disiplin hingga akhir pertandingan.
Duel yang Terlalu Mudah Hilang
Allegri juga menyoroti lemahnya duel individu pada babak pertama. “Kami kehilangan banyak duel, misalnya antara De Winter dan Maldini. Ketika terlalu lembut dalam tantangan, Anda akan kehilangan bola”, kata Allegri.
“Setelah istirahat kami jauh lebih kuat dalam duel. Itu membuat Lazio lebih sering bertahan di area mereka sendiri”.
Menurutnya, koordinasi pertahanan Milan juga perlu diperbaiki karena beberapa pemain sering tertinggal saat menghadapi serangan balik lawan.
Fokus ke Target Realistis
Menjelang akhir musim, Allegri meminta timnya tetap fokus pada target realistis. “Musim ini masih panjang. Kami harus fokus pada hal-hal yang bisa kami kontrol dan memastikan tiket Liga Champions tetap menjadi prioritas”, lanjut Allegri.
“Setelah itu, barulah kita bisa berbicara tentang hal lain seperti persaingan Scudetto”, tutup pelatih berumur 58 tahun ini. (MR-02)






