Mataredaksi.com, BOGOR – Sejak 1970-an, Kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat menjadi destinasi wisata favorit wisatawan lokal maupun mancanegara. Panorama kebun teh, Gunung Mas, air terjun, dan Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua membuat kawasan ini menjadi ikon pariwisata Tatar Pasundan.
Puncak Terus Berkembang
Seiring waktu, Puncak menghadirkan berbagai atraksi baru. Restoran, hotel, hingga lokasi glamour camping (glamping) semakin banyak. Ribuan warga menggantungkan hidup pada sektor pariwisata ini.
Penutupan Objek Wisata Mengguncang Ekonomi
Namun, belasan hingga puluhan objek wisata ditutup oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Aliansi Masyarakat Bogor Selatan (AMBS) mencatat, penghentian operasional membuat 2.300 pekerja harus dirumahkan.
DPR Soroti Dampak Kebijakan
Menanggapi kondisi itu, Mulyadi, anggota DPR RI dari Daerah pemilihan (Dapil) Kabupaten Bogor, menyesalkan langkah KLH. “Penutupan ini mengganggu iklim pariwisata, merusak investasi, dan membuat ribuan pekerja kehilangan penghasilan”, ujarnya Jumat (3/9/2025).
Mulyadi menekankan, efeknya terasa luas. Kunjungan wisatawan menurun, Pendapatan Asli Daerah (PAD) ikut terdampak, pengangguran naik, kualitas pendidikan berpotensi turun, dan angka kriminalitas bisa meningkat.
“Dampaknya tidak hanya berkurangnya kunjungan wisatawan, tetapi juga menurunnya Pendapatan Asli Daerah, meningkatnya pengangguran, dan berpotensi menurunkan kualitas pendidikan serta memicu kenaikan angka kriminalitas”, jelasnya.
Reses untuk Menampung Aspirasi Masyarakat
Dalam waktu dekat, Mulyadi akan melakukan reses di Puncak. Tujuannya, menyerap masalah dan memperjuangkan hak warga yang bergantung hidup pada sektor pariwisata. “Reses ini penting untuk mendengarkan langsung aspirasi masyarakat”, tutupnya. (MR-05)






