Mataredaksi.com, BOGOR – Tifoseria laziale, suporter Società Sportiva Lazio meninggalkan Stadion Olimpico hampir sepenuhnya kosong saat tim kesayangan mereka menjamu Genoa CFC pada pekan ke-23 Serie A Italia 2025/2026, Sabtu (31/1/2026) dini hari WIB. Aksi tersebut menjadi bentuk protes langsung terhadap pemilik klub, Claudio Lotito.
Ironisnya, boikot itu terjadi di tengah kemenangan dramatis Lazio. Tim asuhan Maurizio Sarri menang 3-2 lewat gol penalti pada menit ke-100. Meski meraih tiga poin, mayoritas tifosi memilih tidak hadir sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap arah kebijakan klub.
Kemenangan tersebut mengangkat Lazio ke peringkat kedelapan klasemen sementara Serie A. Namun, Biancocelesti masih tertinggal 20 poin dari pemuncak klasemen Inter Milan dan berjarak 11 poin dari zona Liga Champions UEFA. Jarak delapan poin juga masih memisahkan Lazio dari posisi Liga Konferensi Eropa.
Protes Kemenangan – Suporter SS Lazio memprotes kemenangan atas Genoa CFC dengan memilih tidak hadir di Stadion Olimpico, Roma, Sabtu (31/1/2026) dini hari WIB. Tribun yang biasanya dipenuhi nyanyian justru tampak lengang, menjadi simbol kekecewaan fans meski tim mereka meraih tiga poin. Boikot ini ditujukan langsung kepada manajemen klub. (Sumber foto: Getty Images)
Aksi Boikot Suporter Lazio di Stadion Olimpico
Stadion Olimpico terlihat lengang sepanjang pertandingan. Hanya segelintir pendukung yang hadir di tribun untuk memberikan dukungan langsung. Absennya suporter tuan rumah berpadu dengan larangan tandang bagi fans Genoa, menciptakan atmosfer pertandingan yang tidak biasa.
Sejumlah kelompok suporter menilai ketidakhadiran massal sebagai cara paling tegas untuk menyampaikan pesan kepada manajemen klub. Dalam beberapa musim terakhir, hubungan antara tifosi dan pihak klub terus memburuk seiring menurunnya performa dan ambisi kompetitif Lazio.
Aktivitas Bursa Transfer Lazio Januari 2026
Ketegangan memuncak setelah aktivitas Lazio di bursa transfer Januari. Klub melepas striker Valentín “Taty” Castellanos ke West Ham United dan gelandang Mattéo Guendouzi ke Fenerbahce dengan nilai masing-masing sekitar £25 juta.
Merayakan Kemenangan – SS Lazio tetap meraih kemenangan dramatis atas Genoa CFC lewat gol di menit ke-10 masa perpanjangan waktu. Gol telat Danilo Cataldi (kiri) memastikan kemenangan dalam laga yang berjalan alot, namun dirayakan tanpa euforia akibat absennya mayoritas pendukung di stadion. (Sumber foto: Getty Images)
Sebagai pengganti, Lazio mendatangkan Kenneth Taylor dari AFC Ajax, penyerang muda Adrian Przyborek, kiper Edoardo Motta, serta playmaker Daniel Maldini. Maurizio Sarri juga mengakui belum mengenal Petar Ratkov sebelum sang pemain resmi direkrut.
Dalam beberapa musim terakhir, Lazio belum menemukan pengganti sepadan bagi sejumlah pemain kunci yang hengkang, seperti Francesco Acerbi, Sergej Milinković-Savić, Luis Alberto, dan Ciro Immobile.
Posisi Maurizio Sarri di Tengah Tekanan
Situasi klub semakin rumit dengan rumor ketertarikan klub Arab Saudi terhadap bek andalan Alessio Romagnoli menjelang penutupan bursa transfer Januari. Meski berada dalam tekanan besar, Maurizio Sarri memilih bertahan dan melanjutkan proyeknya bersama Lazio.
Menuai Kecaman – Pemilik klub Claudio Lotito menuai kecaman setelah menjual sejumlah pemain bintang dan menggantinya dengan rekrutan berbiaya murah. Kebijakan transfer tersebut dinilai sebagai langkah penghematan yang mengorbankan kualitas skuad dan daya saing Lazio di level tertinggi. (Sumber foto: Getty Images)
Pelatih berusia 67 tahun itu juga baru saja melewati masa pemulihan setelah menjalani operasi jantung. Ia secara terbuka mengakui adanya penurunan kualitas skuad, namun menegaskan komitmennya kepada klub dan para pendukung.
Meski Lazio menang di lapangan, boikot stadion menunjukkan jarak yang masih lebar antara suporter dan manajemen. Arah kebijakan klub ke depan kini menjadi sorotan utama publik Olimpico.
“Lazio adalah cinta tanpa syarat. Ketika Anda datang ke sini, Anda merasakannya. Saya sudah berjanji kepada para suporter untuk bertahan dan melakukan segalanya”, ujar Sarri kepada media setempat.
Sarri juga menyinggung arah pembangunan skuad yang ditempuh manajemen. Menurutnya, rencana membangun tim muda harus tetap mengedepankan kualitas, bukan sekadar usia pemain.
Penurunan Kualitas – Pelatih Maurizio Sarri secara terbuka mengecam penurunan kualitas (“downgrade”) skuadnya, Sabtu (31/1/2026). Sarri mengisyaratkan ketidakpuasan terhadap arah klub, menyebut timnya kini tidak lagi sekuat musim-musim sebelumnya akibat keputusan manajemen di bursa transfer. (Sumber foto: Getty Images)
“Saya tidak peduli usia pemain. Jika ada kualitas, berusia 20 atau 30 tahun tidak menjadi masalah. Yang penting adalah kualitas dan keseimbangan tim”, tambahnya.
Meski mengaku belum sepenuhnya yakin Lazio bergerak ke arah yang benar, Sarri memilih menunggu hingga situasi klub lebih stabil sebelum menarik kesimpulan. “Saat ini perasaan saya belum positif. Namun, kita lihat saja beberapa hari ke depan. Saya bisa saja salah”, tutup Sarri. (MR-03)






