Mataredaksi.com, BOGOR – Manchester City Women’s Football Club menorehkan sejarah baru dengan meraih double domestik pertama dalam sejarah klub setelah mengalahkan Brighton & Hove Albion Women 4-0 pada final Piala FA Wanita 2025/2026, di Stadion Wembley, London, Minggu (31/5/2026) malam WIB.
Tiga pekan setelah memastikan gelar Liga Super Wanita Inggris (FA WSL 1), skuad asuhan Andrée Jeglertz kembali menunjukkan kualitasnya dengan mengangkat trofi kedua musim ini.
Kemenangan tersebut sekaligus menghadirkan gelar Piala FA Wanita keempat bagi Manchester City Women dan menegaskan dominasi Alex Greenwood dan kawan-kawan di sepak bola wanita Inggris.
Meski skor akhir terlihat mencolok, jalannya pertandingan tidak sepenuhnya berjalan mudah bagi City. Brighton tampil berani sejak menit-menit awal dan mampu memberikan tekanan kepada sang juara liga.
Fran Kirby beberapa kali menemukan ruang di area berbahaya, sementara Kiko Seike terus menguji pertahanan City melalui pergerakannya di sisi sayap. Gelandang Maisie Symonds juga tampil menonjol dalam mengatur ritme permainan Brighton.
Namun, ketika Brighton gagal memanfaatkan sejumlah peluang yang mereka ciptakan, Man City WFC menunjukkan ketajaman yang menjadi ciri khas mereka sepanjang musim.
Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-38. Striker asal Jamaika, Khadija Shaw, menyambut umpan silang dengan sundulan terarah yang gagal dijangkau kiper Chiamaka Nnadozie.
Gol tersebut menjadi pukulan bagi Maisie Symonds dan kawan-kawan yang sebelumnya tampil cukup nyaman mengendalikan sejumlah fase pertandingan.
Menjelang turun minum, City kembali menghukum lawannya. Kapten Alex Greenwood menggandakan keunggulan melalui tendangan bebas indah dari luar kotak penalti.
Bola melengkung yang dilepaskannya meluncur ke sudut gawang dan membawa Man City Women’s menutup babak pertama dengan keunggulan 2-0. Gol Greenwood menjadi momen istimewa karena merupakan satu-satunya gol yang ia cetak sepanjang musim 2025/2026.
Shaw Kembali Jadi Pembeda
Nama Khadija Shaw kembali menjadi sorotan dalam laga puncak tersebut. Penyerang yang telah menjadi mesin gol City dalam beberapa musim terakhir itu tidak hanya mencetak gol pembuka, tetapi juga berperan dalam terciptanya gol ketiga.
Penampilan impresif Shaw datang hanya sehari setelah kabar besar mengenai masa depannya beredar. Penyerang tim nasional Jamaika itu memutuskan bertahan di Manchester City dan menandatangani kontrak baru yang akan membuatnya tetap berada di klub selama empat tahun ke depan.
Keputusan tersebut menjadi suntikan moral bagi City yang tengah membangun fondasi jangka panjang untuk bersaing di level domestik maupun Eropa.
Peran Shaw dalam final kembali membuktikan mengapa klub begitu berupaya mempertahankannya. Ketika pertandingan membutuhkan sosok pembeda, ia hadir dengan kontribusi nyata.
Kedalaman Skuad Jadi Senjata Utama City
Jika Brighton harus berjuang dengan sumber daya yang lebih terbatas, Manchester City memiliki kemewahan yang jarang dimiliki tim lain di kompetisi domestik. Keunggulan itu terlihat jelas pada babak kedua ketika Jeglertz memasukkan sejumlah pemain berkualitas dari bangku cadangan.
Aoba Fujino langsung memberikan dampak instan. Pemain asal Jepang tersebut mencetak gol ketiga City setelah memanfaatkan umpan dari Shaw dan mengubah skor menjadi 3-0.
Tidak lama kemudian, Vivianne Miedema ikut mencatatkan namanya di papan skor. Penyerang Belanda itu menuntaskan serangan City untuk memastikan kemenangan telak 4-0. Gol tersebut terasa spesial bagi Miedema yang baru kembali bermain setelah absen pada akhir musim karena alasan pribadi.
Masuknya Fujino dan Miedema menjadi gambaran nyata kedalaman skuad yang dimiliki City. Ketika Brighton mulai kehabisan tenaga, City justru mampu menghadirkan kualitas baru dari bangku cadangan. Perbedaan itulah yang pada akhirnya membuat jarak kedua tim terlihat cukup jauh pada papan skor.
Brighton Kalah, Tetapi Tetap Tinggalkan Kesan Positif
Di balik kekalahan telak tersebut, Brighton tetap memiliki banyak alasan untuk bangga terhadap perjalanan mereka musim ini.
Final di Wembley merupakan final besar pertama dalam sejarah tim wanita Brighton. Pencapaian itu menjadi bukti perkembangan signifikan yang mereka tunjukkan di bawah arahan Dario Vidošić.
Sepanjang dua bulan terakhir musim ini, Brighton tampil konsisten dan mampu bersaing dengan sejumlah tim papan atas. Mereka juga menunjukkan keberanian yang sama saat menghadapi City di final.
Meski gagal mencetak gol, Brighton sempat membuat sang juara kesulitan mengembangkan permainan pada babak pertama. “Sebanyak kami kecewa dengan hasil ini, saya merasa skor akhir sedikit tidak adil terhadap para pemain karena cara mereka bermain”, kata Vidošić.
“Tidak lama yang lalu kami mungkin hanya bisa mendominasi Manchester City selama beberapa menit. Kini kami mampu bermain berani di Wembley dan saya sangat bangga kepada tim ini”.
Menurut Vidošić, pengalaman tampil di final akan menjadi modal berharga bagi para pemain mudanya untuk berkembang pada musim-musim mendatang. Final di Wembley juga menghadirkan kisah emosional yang menyentuh banyak pihak.
Momen Emosional untuk Keluarga Vidošić
Sebelum pertandingan dimulai, para pendukung Brighton membentangkan tifo khusus untuk mengenang mendiang Rado Vidošić, ayah Dario Vidošić yang pernah menjadi sosok penting di lingkungan klub sebelum meninggal dunia akibat kanker pada Januari lalu.
Tifo tersebut menampilkan gambar Dario bersama ayahnya dengan tulisan sederhana namun penuh makna: “Father, Coach, Mentor”.
Dario mengaku terharu melihat penghormatan yang diberikan para suporter kepada ayahnya. “Itu pesan yang sangat indah. Terima kasih kepada klub dan para pendukung”, ujar Vidošić.
“Beberapa hari terasa lebih mudah, beberapa hari terasa lebih berat. Ayah saya pasti akan senang berada di sini bersama kami. Saya yakin dia menyaksikan perjalanan ini dan bangga terhadap apa yang telah kami capai”.
Fondasi Kuat Menuju Musim Depan
Bagi Manchester City Women’s, kemenangan di Wembley menjadi penutup sempurna untuk musim yang nyaris tanpa cela.
Ketika Jeglertz mengambil alih tim pada awal musim, City baru saja melewati periode sulit setelah gagal lolos ke Liga Champions dan kehilangan posisi sebagai penantang utama gelar.
Dalam waktu kurang dari satu tahun, pelatih asal Swedia tersebut berhasil mengubah arah klub. City tidak hanya merebut kembali gelar liga untuk pertama kalinya sejak 2016, tetapi juga mengamankan trofi Piala FA untuk melengkapi double domestik bersejarah.
Dengan Shaw yang telah memastikan masa depannya di klub, Greenwood yang tetap menjadi pemimpin di lapangan, serta kombinasi pemain berpengalaman dan talenta muda yang terus berkembang, City kini memiliki fondasi kuat untuk menatap Liga Champions musim depan.
Sementara Brighton memang harus pulang tanpa trofi, tetapi perjalanan mereka menuju final pertama menunjukkan bahwa klub tersebut sedang bergerak ke arah yang tepat. Bagi City, Wembley menjadi panggung perayaan. Bagi Brighton, Wembley menjadi awal dari ambisi yang lebih besar di masa depan. (MR-01)






