Mataredaksi.com, BOGOR – Tim nasional Kroasia harus menelan kekalahan paling menyakitkan dalam sejarah mereka setelah dihantam Inggris 0-7 pada pertandingan ketiga Phase League A Grup A3 UEFA Nations League atau Liga Bangsa-Bangsa UEFA 2026/2027, di Stadion HNK Rijeka, Sabtu (3/10/2026) malam WIB.
Kekalahan tersebut menjadi pukulan telak bagi The Checkered Ones yang tampil di hadapan mayoritas penonton anak-anak sekolah akibat pembatasan yang diberlakukan UEFA terhadap tim tuan rumah.
Inggris Mengamuk Sejak Babak Pertama
Inggris tampil tanpa ampun dan mencetak empat gol sebelum turun minum. Harry Kane, Jude Bellingham, Anthony Gordon, dan Bukayo Saka bergantian mencatatkan nama di papan skor.
Setelah jeda, Kane dan Saka kembali mencetak gol sebelum Morgan Rogers melengkapi pesta The Three Lions. Hasil tersebut sekaligus menjadi kemenangan terbesar Inggris atas Kroasia.
Bagi Kroasia racikan Slaven Bilić, kekalahan tujuh gol tanpa balas itu merupakan yang terburuk sepanjang sejarah mereka. Sebelumnya, Kroasia tidak pernah kalah di kandang dengan selisih lebih dari tiga gol.
Mereka pernah menyerah 1-4 kepada Inggris pada September 2008. Sementara itu, kekalahan terbesar sebelumnya terjadi ketika Kroasia takluk 0-6 dari Spanyol pada 2018.
Statistik Inggris Tegaskan Dominasi
Besarnya kemenangan Inggris juga tercermin dari statistik pertandingan. Tim asuhan Thomas Tuchel mencatat expected goals atau xG mencapai 6,43, sedangkan Kroasia hanya menghasilkan 1,39.
Angka tersebut bahkan menjadi xG terbesar yang pernah dicatat sebuah tim dalam satu pertandingan Liga Bangsa-Bangsa UEFA dengan selisih yang cukup jauh. Catatan Inggris melampaui 4,89 xG milik Belarus ketika menghadapi San Marino pada September 2018.
Dominasi tersebut membuat Luka Modrić tidak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Pemain senior Kroasia itu mengakui timnya tampil sangat buruk dan gagal memperlihatkan karakter yang selama ini melekat pada mereka.
Modrić Akui Merasa Malu
Modrić bahkan mengungkapkan perasaan yang belum pernah dia rasakan selama dua dekade membela tim nasional Kroasia. Menurutnya, kekalahan tersebut bukan sekadar persoalan menghadapi lawan yang lebih kuat.
“Anda tidak bisa bermain sepak bola seperti itu. Kami tampak seperti kami memiliki empat atau lima pemain yang kurang”, kata mantan gelandang klub La Liga Real Madrid Club de Fútbol.
Ia menilai Kroasia gagal menunjukkan agresivitas dan kebersamaan yang seharusnya menjadi modal ketika menghadapi tim sekelas Inggris.
“Sulit untuk menemukan penjelasan untuk kinerja seperti itu, tanpa memenangkan duel, membuat pelanggaran, menunjukkan agresivitas dan kebersamaan”, ujar Luka Modrić.
Setelah membela Kroasia selama 20 tahun, Modrić menyebut kekalahan tersebut sebagai pengalaman yang sangat berbeda dari apa yang pernah dia rasakan sebelumnya.
“Saya sudah di sini selama 20 tahun, tetapi untuk pertama kalinya, saya merasa malu setelah pertandingan”, kata Modrić.
Reputasi Kroasia Tak Boleh Hancur
Modrić yang bermain sebagai gelandang untuk klub Serie A Italia, AC Milan memahami bahwa kekalahan dari lawan yang lebih baik merupakan bagian dari sepak bola.
Namun, cara Kroasia menyerah kepada Inggris membuatnya sulit menerima hasil tersebut. “Anda bisa kalah, atau Anda bisa bermain melawan lawan yang lebih baik – dan mereka sekarang”, ucap Modrić.
“Tapi kalah seperti ini dan menyia-nyiakan reputasi yang telah kita bangun selama bertahun-tahun tidak dapat diterima. Aku merasa malu”, lanjutnya.
Bagi Modrić, Kroasia harus segera mengembalikan karakter permainan mereka. Pasalnya, kekalahan telak tersebut datang ketika persaingan menuju babak delapan besar Liga Bangsa-Bangsa UEFA masih berlangsung.
Spanyol Sudah Menanti Kroasia
Situasi Kroasia juga tidak menjadi lebih mudah. Mereka akan menjamu Spanyol pada pertandingan terakhir jeda internasional ini, Rabu (7/10/2026) pukul 01.45 WIB.
Laga tersebut menjadi tantangan berikutnya bagi Kroasia setelah kekalahan telak dari Inggris. Kekalahan kembali hampir pasti mengakhiri peluang Kroasia untuk lolos ke babak delapan besar.
Karena itu, Luka Modrić meminta seluruh pemain segera bersatu dan memperbaiki mental sebelum menghadapi pertandingan berikutnya. “Kami harus bersatu dan tetap bersatu karena pertandingan sulit lainnya menanti kami”, kata Modrić.
Modrić Minta Kroasia Bangkit
Menurut Modrić, Kroasia harus kembali menunjukkan perjuangan, kebanggaan, kemauan, dan persatuan yang selama ini menjadi identitas mereka. Ia menilai kekalahan dari Inggris tidak boleh membuat karakter tim hilang begitu saja.
“Kita harus menunjukkan diri kita yang sebenarnya, bahwa kita memiliki perjuangan dan kebanggaan, keinginan, kemauan dan persatuan. Anda tidak bisa kehilangan itu dalam semalam”, tambahnya.
Bilić Sulit Mencari Penjelasan
Sementara itu, Pelatih kepala Kroasia, Slaven Bilić, juga mengaku kesulitan menjelaskan penampilan buruk timnya. Ia merasa kecewa karena Kroasia tidak mampu memberikan perlawanan berarti kepada Inggris.
“Sulit untuk mengatakan apa pun setelah malam seperti ini. Kami sedih, kecewa, dan saya merasa kasihan pada para penggemar dan anak-anak yang berada di pertandingan”, kata Bilić.
Bilić Soroti Kepercayaan Diri Pemain
Bilić mengatakan timnya sudah menyadari bahwa Inggris merupakan lawan dengan kualitas tinggi. Namun, dia tidak menyangka pertandingan akan berakhir dengan kekalahan telak tujuh gol.
“Kami berbicara, ini paling sulit bagi kami, dan kami tidak berharap ini akan terjadi. Saya tidak tahu harus menyebutnya apa, apakah itu pemadaman, tetapi sulit untuk menganalisis permainan ketika Anda kalah 7-0”, ujarnya.
Menurut Bilić, kegagalan Kroasia memberikan perlawanan kemudian memengaruhi kepercayaan diri para pemain. Situasi tersebut membuat permainan mereka semakin berantakan hingga Inggris mampu mencetak tujuh gol.
“Kami tahu mereka adalah tim top, tetapi kami tidak bisa menandingi mereka dengan cara apa pun … yang menyerang kepercayaan diri Anda, keinginan Anda, dan semuanya berantakan dan berjalan dengan cara yang salah”, kata Bilić. (MR-02)






