Mataredaksi.com, JAKARTA – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mempercepat langkah menarik investasi hulu dengan menyiapkan 110 blok migas untuk dilelang dalam dua tahun mendatang. Lembaga ini memfokuskan penawaran pada proyek gas, seiring dominasi temuan cadangan gas dalam lima tahun terakhir.
Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, menyebut jumlah blok yang siap ditawarkan meningkat tajam dari rencana awal. Pada tahap pertama, tim hanya memetakan 65 blok potensial.
Evaluasi lanjutan mendorong angka itu naik menjadi 75 blok, lalu berkembang lagi hingga mencapai 110 blok. “Target kami hari ini ada 110 blok yang akan kami tawarkan kepada investor potensial”, kata Rikky dalam kuliah umum Menteri ESDM bertajuk Strategi Swasembada Energi 2026: Hilirisasi, Transisi, dan Investasi di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Kontrak 20–30 Tahun dan Kewajiban Eksplorasi
SKK Migas langsung menandatangani kontrak kerja sama setelah pemerintah menetapkan pemenang lelang. Kontrak tersebut berlaku selama 20 hingga 30 tahun.
Pada 10 tahun pertama, kontraktor wajib menjalankan komitmen kerja pasti berupa kegiatan eksplorasi. Mereka harus mencari dan membuktikan cadangan migas secara teknis dan ekonomis.
Jika menemukan cadangan yang layak, kontraktor mengajukan rencana pengembangan lapangan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelum masuk tahap produksi. SKK Migas mengawasi seluruh proses tersebut dan memastikan setiap kontraktor menjalankan program eksplorasi sesuai target.
Produksi Turun, Proyek Baru Harus Jalan
Indonesia menghadapi tantangan penurunan produksi alami atau decline rate dari lapangan-lapangan tua. Produksi migas memang akan terus menurun karena sifatnya sebagai sumber daya tak terbarukan.
Untuk menekan dampak penurunan itu, SKK Migas mendorong percepatan proyek-proyek baru agar segera masuk tahap produksi. Ketika masa kontrak suatu wilayah kerja berakhir, pemerintah memberi dua opsi: memperpanjang kontrak operator lama atau menarik kembali wilayah tersebut untuk dilelang ulang.
Langkah ini bertujuan menjaga kesinambungan produksi nasional sekaligus memastikan pasokan energi tetap aman.
Proyek Gas Diprediksi Mendominasi
Rikky menilai proyek-proyek besar ke depan akan lebih banyak berbasis gas. Ia merujuk pada tren lima tahun terakhir yang menunjukkan dominasi temuan gas dibanding minyak.
Namun, pengembangan gas menuntut kesiapan infrastruktur. Pelaku usaha harus membangun jaringan pipa, fasilitas pengolahan, hingga terminal LNG sebelum memasarkan gas.
Berbeda dengan minyak yang lebih fleksibel dalam penyimpanan dan distribusi, gas harus langsung tersalurkan ketika diproduksi. Karena itu, investor perlu menghitung aspek komersial dan kesiapan pasar sejak tahap awal.
Pembiayaan Terkait CCS dan Transisi Energi
Perusahaan migas global kini mengaitkan pendanaan proyek dengan komitmen energi rendah karbon. Banyak investor meminta integrasi teknologi carbon capture storage (CCS) dan carbon capture utilization and storage (CCUS).
BP Tangguh (Tangguh LNG), misalnya, mengembangkan proyek Ubadari CCUS yang menggabungkan produksi gas dengan penangkapan dan penyimpanan karbon. Model seperti ini menunjukkan industri hulu tetap bisa berjalan seiring agenda dekarbonisasi.
Rikky menegaskan SKK Migas tidak menghambat transisi energi. Lembaganya justru memastikan proses tersebut berjalan realistis tanpa mengganggu ketahanan energi nasional.
Potensi 100 Lebih Cekungan Belum Tergarap
Indonesia memiliki 128 cekungan migas. Saat ini, baru 20 cekungan yang berproduksi. Jika Blok Masela mulai beroperasi, jumlah itu bertambah menjadi 21.
Artinya, lebih dari 100 cekungan masih menunggu eksplorasi lanjutan. Pemerintah melihat potensi ini sebagai peluang besar untuk menarik investasi dan memperkuat produksi jangka panjang.
Sepanjang 2025, Presiden telah meresmikan sejumlah proyek strategis, termasuk Forel dan Kerubuk berkapasitas sekitar 20 ribu barel minyak per hari serta tambahan 30 ribu barel per hari dari Blok Cepu.
Melalui pembukaan 110 blok baru, SKK Migas berharap investor tetap melihat Indonesia sebagai tujuan investasi yang menarik di tengah dinamika global dan tuntutan energi ramah lingkungan. (MR-01/*)







