Prancis Tekuk Belgia 1-0, Zidane Temukan Formula Baru dan Tiga Catatan Penting

Apresiasi untuk Suporter – Penyerang sayap timnas Prancis, Désiré Doué (#20) dan Ousmane Dembélé (#7) memimpin rekan-rekan setimnya memberikan aplaus kepada para penonton di tribune setelah menghadapi Belgia dalam laga kedua Phase League A Grup A1 UEFA Nations League 2026/2027, di Stadion Raja Baudouin, Brussel, Selasa (29/9/2026) dini hari WIB. Les Bleus menang tipis 1-0 berkat gol Michael Olise sekaligus mempertahankan start sempurna Zinédine Zidane sebagai pelatih The Bleus. (Sumber foto: @equipedefrance/X)

Mataredaksi.com, BOGOR – Timnas Prancis kembali meraih kemenangan pada laga kedua Phase League A Grup A1 UEFA Nations League 2026/2027. Le Coq Gaulois menundukkan Belgia 1-0 di Stadion Raja Baudouin, Brussel, Selasa (29/9/2026) dini hari WIB.

Gol Michael Olise pada menit ke-88 menjadi pembeda dalam pertandingan yang berlangsung ketat tersebut. Pemain sayap Prancis itu melewati sejumlah pemain Belgia sebelum melepaskan tembakan yang membawa tim asuhan Zinédine Zidane mempertahankan rekor sempurna pada awal era pelatih anyar tersebut.

Kemenangan atas Belgia juga memberikan sejumlah gambaran mengenai perkembangan Prancis di bawah Zidane. Selain memperlihatkan keberanian para pemain debutan, pertandingan tersebut mulai memperlihatkan pola permainan yang diinginkan sang pelatih. Namun, “Ayam Jantan Galia” masih memiliki pekerjaan rumah dalam urusan penyelesaian akhir.

Da Cunha Tampil Berani pada Debut Internasional

Lucas Da Cunha menjadi salah satu pemain yang mencuri perhatian dalam pertandingan tersebut. Gelandang klub Serie A Italia Como 1907 itu akhirnya mendapatkan kesempatan yang sudah lama dinantikan, setelah Zidane memasukkannya dalam skuad Prancis.

Pada debut internasionalnya, Da Cunha langsung mendapat tugas penting sebagai gelandang bertahan dalam skema tiga pemain tengah. Ia ditempatkan sebagai pemain nomor enam yang beroperasi lebih dalam untuk menjaga keseimbangan permainan Prancis.

Da Cunha tidak membutuhkan waktu lama untuk menunjukkan kualitasnya. Ia mampu membatasi pengaruh Youri Tielemans sekaligus membantu Prancis menjaga kendali di lini tengah.

Kualitas teknik dan visi bermainnya juga terlihat melalui sejumlah umpan diagonal yang akurat ke berbagai area lapangan. Da Cunha mampu membaca pergerakan rekan setim, menjalankan beban kerja yang besar, sekaligus memberikan kontribusi ketika Prancis kehilangan bola.

Penampilannya bahkan hampir dilengkapi gol. Tembakan kaki kiri Da Cunha hanya membentur tiang gawang Senne Lammens sehingga peluang mencetak gol pada debutnya belum terwujud.

Da Cunha bukan satu-satunya debutan yang mendapatkan sorotan positif. Jérémy Jacquet dan Andy Diouf juga menunjukkan keberanian ketika mendapat kesempatan tampil bersama tim senior Prancis.

Formula 4-3-3 Zidane Mulai Terlihat

Jika pertandingan sebelumnya melawan Turki lebih banyak menyorot debut Zidane dan cedera Kylian Mbappé, beberapa hari terakhir memberikan gambaran lebih jelas mengenai pendekatan sang pelatih.

Zidane sebelumnya telah menyampaikan keinginannya melihat Prancis bermain dengan formasi 4-3-3 yang agresif. Saat menghadapi Belgia, kerangka tersebut mulai menunjukkan bentuk dalam permainan Les Bleus, masih julukan timnas Prancis.

Pertandingan di Brussel juga memberikan tontonan yang berbeda dibandingkan laga melawan Turki di Izmit. Meskipun Zidane melakukan perubahan personel, Prancis mampu menunjukkan sejumlah pola permainan yang menjadi bagian dari identitas baru mereka.

Mike Maignan dan Maxence Lacroix kembali mengisi susunan pemain pilihan Zidane. Lacroix bersama Jérémy Jacquet memainkan peran penting dalam membangun serangan dari lini belakang. Keduanya berani membawa bola dan mencari celah untuk melewati garis tekanan Belgia.

Tiga gelandang berkaki kiri yang dimainkan Zidane juga memiliki peran masing-masing. Da Cunha menjadi salah satu pemain penting dalam menjaga sirkulasi bola di lini tengah.

Eduardo Camavinga kembali tampil di sisi kiri dan bekerja tanpa kenal lelah. Sementara itu, Maghnes Akliouche menjalankan peran yang memberi ruang baginya untuk menunjukkan kemampuan kreatif.

Salah satu hal paling menarik adalah pemahaman cepat di antara pemain-pemain yang belum pernah bermain bersama sebelum jeda internasional ini. Kombinasi tersebut mulai memberikan gambaran mengenai arah permainan Prancis di bawah Zidane.

Penyelesaian Akhir Masih Jadi Pekerjaan Rumah

Hasil pertandingan memang memberikan alasan bagi Prancis untuk tersenyum. Namun, Prancis masih perlu memperbaiki satu persoalan jika Les Bleus ingin tampil lebih efektif, yakni penyelesaian peluang di sepertiga akhir.

Kemenangan di Brussel sebenarnya bisa Prancis pastikan jauh lebih awal sebelum Olise mencetak gol pada menit ke-88. Prancis masih terlalu sering mengandalkan kualitas individu untuk memecahkan kebuntuan.

Situasi tersebut sebelumnya juga terlihat ketika Mbappé menjadi penentu kemenangan tipis atas Turki. Saat kapten Prancis itu tidak berada di lapangan, pemain lain perlu mengambil tanggung jawab lebih besar dalam menciptakan dan menyelesaikan peluang.

Estéban Lepaul menjadi salah satu pemain yang belum mampu memberikan dampak besar. Penyerang klub Ligue 1 Stade Rennes FC itu kesulitan menemukan posisi ideal untuk melepaskan tembakan dan belum mampu memaksimalkan kesempatan yang datang kepadanya.

Bradley Barcola juga belum tampil maksimal di lini depan. Sementara itu, Ousmane Dembélé masuk sebagai pemain pengganti, tetapi belum banyak mengubah permainan menyerang Prancis.

Désiré Doué menjadi salah satu pengecualian. Pemain muda tersebut memperlihatkan kemampuan menggiring bola yang membuat lini belakang Belgia beberapa kali berada dalam tekanan.

Prancis juga dua kali membentur tiang gawang dan hanya mencatat satu tembakan tepat sasaran dari tiga percobaan yang mengarah ke gawang. Statistik tersebut menunjukkan bahwa efektivitas di sepertiga akhir masih menjadi bagian yang harus Prancis perbaiki.

Zidane tentu bisa melihat banyak hal positif dari dua kemenangan awalnya. Namun, jika Prancis ingin semakin mendekati permainan yang lengkap, produktivitas dan ketajaman di depan gawang perlu ikut berkembang seiring semakin matangnya formula permainan baru Les Bleus. (MR-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *