Mataredaksi.com, BOGOR – Atalanta Bergamasca Calcio kembali menelan kekalahan 1-2 saat menjamu Cagliari Calcio pada pekan keempat Serie A Italia 2026/2027 di Stadion New Balance Arena, Bergamo, Minggu (13/9/2026) dini hari WIB.
Hasil tersebut membuat La Dea mencatat dua kekalahan secara beruntun setelah sebelumnya mereka juga gagal mengamankan kemenangan saat bertandang ke markas AS Roma.
Kekalahan dari Cagliari terasa mengecewakan karena Atalanta sebenarnya tampil dominan sepanjang pertandingan. Tim asuhan Maurizio Sarri mencatat 22 tembakan dan mampu menekan lawan dalam sebagian besar pertandingan.
Namun, dominasi itu belum cukup untuk menghasilkan kemenangan. Paul Mendy lebih dulu membawa Cagliari unggul pada menit ke-19. Atalanta kemudian merespons melalui Gianluca Scamacca yang mencetak gol penyama kedudukan pada menit ke-41.
Setelah jeda, Daniel Maldini kembali menempatkan Gli Isolani di depan melalui tendangan penalti pada menit ke-61 setelah Sead Kolašinac melakukan handball di dalam kotak terlarang.
Sarri Melihat Perubahan Positif
Meski kembali kalah, Sarri justru tidak melihat situasi Atalanta dengan kekhawatiran yang sama seperti setelah pertandingan sebelumnya. Pelatih asal Italia tersebut menilai penampilan timnya saat menghadapi Cagliari menunjukkan perkembangan penting dalam proses membangun identitas permainan.
Sarri mengaku jauh lebih tenang setelah melihat cara para pemain menjalankan rencana permainan. Ia melihat Atalanta mampu meningkatkan intensitas, melakukan pressing, menguasai wilayah permainan, serta membuat Cagliari lebih banyak bertahan di area sendiri.
“Saya jauh lebih tidak khawatir sekarang dibandingkan setelah pertandingan sebelumnya”, ujar Sarri kepada Sky Sport Italia dilansir Mataredaksi.
Pernyataan tersebut cukup menarik karena Atalanta justru kembali mengalami kekalahan. Namun, Sarri menilai hasil pertandingan bukan satu-satunya ukuran untuk melihat perkembangan tim, terutama ketika proses adaptasi terhadap pendekatan permainan baru masih berjalan.
Saat menghadapi AS Roma, Atalanta memang sempat unggul 1-0 hingga menit ke-47. Namun, mereka kehilangan kendali pada fase akhir pertandingan dan akhirnya kalah 1-2. Bagi Sarri, cara tim bermain pada laga tersebut belum menunjukkan karakter yang ia inginkan.
“Melawan AS Roma, kami hampir menang dengan bermain sangat berbeda dari tim Sarri yang biasa. Malam ini, permainan kami jauh lebih seperti tim Sarri”, kata Sarri.
Ia melihat perbedaan tersebut melalui keberanian pemain menekan lawan, menjaga intensitas permainan, serta mempertahankan posisi di wilayah pertahanan Cagliari. Atalanta juga mampu mengurung lawan lebih lama dan memaksa Gli Isolani bertahan secara rapat.
“Malam ini jauh lebih seperti tim Sarri, dengan intensitas, tekanan, mendominasi penguasaan wilayah, serta membuat tim lain bertahan jauh lebih dalam dengan 22 tembakan”, jelasnya.
Dominan tetapi Belum Efektif
Atalanta memang berhasil menunjukkan permainan yang lebih sesuai dengan keinginan Sarri. Namun, dominasi tersebut belum menghasilkan efektivitas yang sepadan di depan gawang.
Cagliari mampu menjaga pertahanan dengan sangat rapat sehingga para pemain Atalanta kesulitan menemukan ruang di area berbahaya. Ketika tuan rumah mencoba meningkatkan tekanan, Gli Isolani tetap mampu mempertahankan keunggulan hingga pertandingan berakhir.
Di sisi lain, Marco Carnesecchi juga harus melakukan penyelamatan penting untuk menjaga Atalanta tetap berada dalam pertandingan. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa Cagliari tidak hanya mengandalkan pertahanan, tetapi juga mampu memberikan ancaman ketika memperoleh kesempatan.
Sarri mengakui anak asuhnya masih melakukan beberapa kesalahan yang membuat pertandingan berjalan lebih sulit. Meski demikian, ia menilai dasar permainan yang muncul saat menghadapi Cagliari jauh lebih menjanjikan.
“Kami melakukan beberapa kesalahan yang merugikan, tetapi ini merupakan fondasi yang lebih kuat untuk kami kembangkan dibandingkan pertandingan sebelumnya”, tutur Sarri.
Menurutnya, Atalanta harus memperbaiki kualitas serangan agar penguasaan bola dan tekanan yang mereka bangun bisa menghasilkan lebih banyak peluang bersih.
“Saya pikir tingkat kebugaran kami jauh lebih baik malam ini, meskipun Franck Kessié dan Jonathan Rowe belum banyak bermain akhir-akhir ini. Dalam hal peluang mencetak gol, dibandingkan dengan jumlah bola yang kami kuasai, kami mungkin bisa menciptakan lebih banyak”, katanya.
Sarri memahami Cagliari membuat pekerjaan Atalanta semakin sulit. Tim tamu menjaga blok pertahanan dengan disiplin dan menutup banyak jalur yang bisa digunakan tuan rumah untuk masuk ke area penalti. “Tidak mudah ketika Cagliari memasang dinding yang sangat rapat”, tambahnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi Sarri. Atalanta sudah mampu menguasai pertandingan dan menekan lawan, tetapi mereka masih membutuhkan variasi serangan agar dominasi tidak berhenti pada penguasaan wilayah saja.
Kessié dan Rowe Dapat Kepercayaan
Pertandingan melawan Cagliari juga memberi kesempatan kepada Jonathan Rowe dan Franck Kessié untuk tampil sebagai starter. Sarri menurunkan keduanya sejak menit awal ketika ia harus menyiasati kondisi skuad yang tidak sepenuhnya ideal.
Gianluca Gaetano absen karena menjalani hukuman larangan tampil. Sementara itu, Isak Hien dan Kamaldeen Sulemana masih harus menepi karena cedera.
Kondisi tersebut membuat Sarri harus melakukan sejumlah penyesuaian dalam komposisi tim. Meski hasil akhirnya mengecewakan, ia tetap memberikan penilaian positif terhadap kontribusi para pemain yang mendapat kesempatan.
Kessié menjadi salah satu pemain yang mendapat sorotan. Sarri melihat gelandang bertahan asal Pantai Gading tersebut mampu memberikan kekuatan dan kestabilan yang dibutuhkan Atalanta untuk menjalani pertandingan dengan intensitas tinggi.
“Gianluca Gaetano bermain sangat baik, tetapi Kessie juga sangat bagus malam ini. Dia pemain yang solid dan pasti akan menjadi sangat penting bagi kami, seperti halnya Gaetano”, kata Sarri.
Kehadiran Kessié dan Rowe juga menunjukkan bahwa Sarri masih mencari kombinasi paling tepat untuk menjalankan sistem permainannya. Pelatih tersebut membutuhkan pemain yang mampu menjaga intensitas sekaligus memahami tuntutan posisi dalam skema yang ia terapkan.
Karena itu, Sarri tidak ingin menilai perkembangan skuat hanya berdasarkan hasil pertandingan. Ia melihat proses adaptasi pemain terhadap sistem permainan sebagai bagian penting dari perjalanan Atalanta pada awal musim.
Jeda Internasional Jadi Tantangan
Setelah pertandingan melawan Cagliari, perhatian Atalanta akan beralih kepada jeda internasional. Secara normal, masa tersebut bisa menjadi kesempatan bagi pelatih untuk memperbaiki detail permainan sebelum kembali menjalani kompetisi.
Namun, Sarri justru melihat jeda internasional sebagai tantangan tersendiri. Sejumlah pemain Atalanta akan meninggalkan klub untuk menjalankan tugas bersama tim nasional masing-masing.
“Masalahnya, sebagian besar pemain juga akan menjalani tugas internasional. Jadi, kami berisiko hanya memiliki lima pemain dalam latihan dan tidak bisa melakukan apa pun”, ungkapnya.
Situasi itu tentu mengurangi kesempatan Sarri untuk bekerja bersama seluruh skuad. Padahal, Atalanta masih membutuhkan banyak sesi latihan untuk memperkuat koordinasi, memahami pergerakan antarpemain, serta meningkatkan efektivitas ketika memasuki sepertiga akhir lapangan.
Sarri tetap harus memanfaatkan pemain yang tersedia selama periode tersebut. Ia juga perlu menunggu para pemain kembali dari tugas internasional sebelum melanjutkan proses pengembangan permainan secara penuh.
Kondisi ini menjadi tantangan karena Atalanta sedang berada dalam fase penting. Dua kekalahan beruntun membuat hasil pertandingan menjadi perhatian, sementara Sarri justru melihat adanya peningkatan dari sisi permainan.
Sarri Tetap Melihat Fondasi Positif
Sarri tidak menutupi rasa kecewanya setelah Atalanta kembali gagal meraih poin. Ia memahami para pemain sudah berusaha memberikan respons setelah kekalahan dari Roma, tetapi hasil akhir kembali tidak sesuai dengan harapan.
“Saya minta maaf kepada para pemain yang sudah memberikan segalanya. Saya juga minta maaf kepada para penggemar, tetapi saya jauh lebih tidak khawatir malam ini dibandingkan setelah pertandingan sebelumnya”, tegas Sarri.
Pernyataan tersebut memperlihatkan cara Sarri melihat perkembangan Atalanta. Ia tidak mengabaikan kekalahan, tetapi memilih melihat perubahan dalam cara tim menjalankan permainan.
Atalanta sudah menunjukkan intensitas lebih tinggi, tekanan yang lebih konsisten, serta kemampuan menjaga Cagliari tetap berada di area pertahanan. Persoalannya, La Dea belum mampu mengubah dominasi itu menjadi jumlah peluang berkualitas yang cukup untuk membalikkan keadaan.
Bagi Sarri, aspek tersebut masih bisa diperbaiki melalui latihan dan pemahaman antarpemain. Ia percaya fondasi permainan yang muncul saat menghadapi Cagliari memberikan modal lebih baik daripada penampilan Atalanta ketika menghadapi Roma.
Kekalahan 1-2 memang membuat Atalanta kembali kehilangan poin. Namun, Sarri memilih membawa sisi positif dari pertandingan tersebut. Ia melihat tim mulai memperlihatkan identitas yang ingin ia bangun sejak awal kedatangannya.
Dengan proses adaptasi yang terus berjalan, Sarri berharap Atalanta mampu menggabungkan dominasi permainan, intensitas pressing, serta efektivitas serangan. Tantangan berikutnya adalah memastikan perkembangan tersebut tidak hanya terlihat dari cara bermain, tetapi juga menghasilkan kemenangan.
Bagi Atalanta, pekerjaan itu kini harus berlanjut setelah jeda internasional. Sarri sudah menemukan tanda-tanda positif dari permainan timnya, tetapi ia masih membutuhkan waktu untuk membuat identitas tersebut semakin kuat dan konsisten. (MR-01)






