Jorge Jesus Mulai Era Baru Portugal, Wales Ujian Perdana Os Navegadores di Nations League

Debut – Pelatih kepala timnas Portugal, Jorge Jesus, menghadiri konferensi pers menjelang pertandingan menghadapi Wales pada matchday 1 Liga A Grup D UEFA Nations League atau Liga Bangsa-Bangsa UEFA 2026/2027, Jumat (25/9/2026) pukul 01.45 WIB. Bentrok di Estádio José Alvalade, Lisbon, menjadi debut pelatih 72 tahun bersama Os Navegadores. (Sumber foto: Diogo Pinto/FFF)

Mataredaksi.com, BOGOR – Era Jorge Jesus bersama Timnas Portugal dimulai ketika mereka menjamu Wales pada laga pembuka UEFA Nations League 2026/2027 di Estádio José Alvalade, Lisbon, Jumat (25/9/2026) pukul 01.45 WIB.

Jorge Jesus akan menjalani pertandingan pertamanya sebagai pelatih Portugal setelah menggantikan Roberto Martínez. Pelatih berusia 72 tahun itu datang dengan pengalaman panjang di level klub dan mempertahankan sebagian besar pemain yang tampil pada Piala Dunia FIFA 2026.

Jesus juga memasukkan sejumlah nama baru ke dalam skuad. Samuel Soares mendapat panggilan setelah menjadi pilihan utama di Benfica dan menggeser José Sá. Matheus Nunes serta Nélson Semedo absen, sedangkan Nuno Tavares kembali masuk skuad.

João Palhinha juga kembali setelah sebelumnya tidak masuk pilihan. Di lini depan, Fábio Silva mendapat kesempatan menggantikan Gonçalo Guedes. Sementara itu, Cristiano Ronaldo tetap menjadi bagian penting Portugal dan akan berusaha menambah koleksi 146 gol internasionalnya.

Jorge Jesus Mulai Era Baru Portugal

Jorge Jesus menjelaskan bahwa ia menyusun skuad dengan melihat pemain yang tampil pada Piala Dunia serta nama-nama yang berkembang di level klub.

“Saya melihat skuad yang berada di Piala Dunia dan Anda tidak bisa menurunkan dua tim di level yang sama di Portugal. Saya juga melihat mereka yang tidak berada di Piala Dunia dan siapa yang bisa saya pilih, dan pada karakteristik yang bisa masuk dalam model saya”, kata Jesus.

Portugal memiliki empat tambahan baru dibandingkan skuad sebelumnya. Jesus menegaskan perubahan tersebut bukan bentuk penilaian terhadap pekerjaan Roberto Martínez, tetapi bagian dari pendekatan berbeda yang ingin ia terapkan.

“Kami sudah berbicara tentang empat tambahan baru dibandingkan dengan skuad terakhir, tetapi itu tidak ada hubungannya dengan pelatih sebelumnya. Dia punya satu ide dan aku punya yang lain”, ujarnya.

Selain itu, Jesus telah berkomunikasi beberapa kali dengan Luís Freire, pelatih Portugal U-21. Komunikasi tersebut menjadi bagian dari pemantauan pemain muda yang berpotensi masuk ke tim senior. “Saya merasa itu bukan kesempatan mereka, bahwa mereka adalah masa kini dan masa depan”, tutur Jesus.

Pelatih Os Navegadores, masih julukan Portugal, itu juga ingin mempercepat proses adaptasi pemain terhadap gagasan permainannya. Ia tidak ingin memberikan terlalu banyak kuliah taktik karena percaya para pemain mampu membaca situasi pertandingan dan mengambil keputusan di lapangan.

“Saya perlu mempercepat proses sehingga para pemain dapat mengidentifikasi dengan apa yang saya inginkan. Saya akan mengatakan yang lain dari salah satu frasa saya: ‘Saya memiliki pelatihan lapangan dan pelatihan dalam ruangan’. Tidak ada kuliah”, jelasnya.

“Saya sangat percaya pada kecerdasan para pemain dan mereka harus menyelesaikan semua situasi yang terjadi selama pertandingan”, lanjut pelatih yang pernah menukangi Sporting Clube de Portugal musim 2015-2018.

Jesus juga menekankan pentingnya melihat pemain secara langsung. Menurutnya, pemantauan melalui pertandingan membuat staf pelatih dapat memahami perkembangan pemain dengan lebih baik.

“Menyelinalisasi pemain hidup? Itu akan menjadi penting. Yang terakhir saya lihat adalah Bernardo Silva di Madrid. Hari ini mudah untuk melihat banyak pemain tanpa hadir, meskipun tim teknis kami menyebar untuk menonton beberapa pertandingan”, katanya.

Ronaldo Tetap Jadi Bagian Penting

Cristiano Ronaldo tetap menjadi bagian penting dalam skuad Portugal. Penyerang berusia 41 tahun itu masih menjadi andalan dan berpeluang menambah catatan 146 gol internasional.

Jesus juga menjelaskan cara pandangnya terhadap jumlah pemain yang harus masuk ke dalam skuad. Menurutnya, daftar awal dapat mencakup banyak nama, tetapi komposisi pertandingan tetap harus menyesuaikan kebutuhan dan kondisi pemain.

“Semua orang membuat daftar skuad awal, kami memiliki 46 pemain. Pada periode pertama ini, kami memiliki 25 pemain. Memiliki skuad yang terdiri dari 44 pemain di fase kedua Liga Bangsa-Bangsa…mereka tidak bisa cedera dan harus ada perubahan. Bagi saya, itu tidak masuk akal sama sekali”, ujar Jesus.

Terkait Ronaldo, Jesus memiliki pandangan khusus mengenai target gol sang kapten. Ia bahkan berharap Ronaldo lebih banyak mencetak gol untuk klubnya daripada mengejar pencapaian tersebut bersama tim nasional.

“Mengenai Cristiano Ronaldo, saya percaya dia harus mencetak gol ke-1.000 lebih untuk Al-Nassr FC daripada untuk tim nasional”, katanya.

https://image-service.onefootball.com/transform?w=620&h=413&dpr=2&image=https%3A%2F%2Fportugoal.net%2Fimages%2FSelecao2026%2FPortugal-Wales-2016-Ronaldo.jpgSelebrasi Gol – Cristiano Ronaldo mencetak gol pembuka Portugal saat menghadapi Wales pada semifinal UEFA Euro 2016, di Parc Olympique Lyonnais, Prancis. Gol tersebut membuka kemenangan Os Navegadores 2-0 atas The Dragons sekaligus mengantarkan ke final sebelum akhirnya meraih gelar juara Eropa. (Sumber foto: Stu Forster/Getty Images)

Di posisi penjaga gawang, Jesus menjelaskan alasan memanggil Samuel Soares. Kiper SL Benfica berusia 24 tahun itu masuk untuk melengkapi pilihan penjaga gawang Portugal.

“Samuel Soares adalah kiper berusia 24 tahun. Selain Diogo Costa, Rui Silva dan José Sá, yang biasanya dipanggil, lebih tua. Kami ingin menggabungkan kiper ketiga”, jelas Jesus.

João Félix dan Rafael Leão dalam Rencana Jesus

Jesus kemudian menjelaskan rencana taktisnya untuk João Félix dan Rafael Leão. Ia melihat Félix sebagai pemain yang lebih cocok mengisi peran penyerang kedua, sedangkan Leão memiliki pengalaman bermain sebagai penyerang utama dalam sistem yang pernah ia terapkan.

“João Félix bukan pemain yang bermain di sayap dengan saya. Itu tidak berarti perubahan strategis tidak bisa terjadi selama pertandingan. Dia akan selalu menjadi striker kedua dan striker pertama”, kata Jesus.

Sementara itu, Jesus memiliki pengalaman menggunakan Leão sebagai penyerang utama ketika masih menangani Sporting Clube de Portugal.

“Rafael Leão selalu bermain sebagai striker pertama untuk saya. Di Sporting, saya memainkannya sebagai striker pertama melawan FC Porto dan dia bahkan mencetak gol, meskipun saya sudah memainkannya di sana sebelumnya”, ujarnya.

Jesus juga melihat kemungkinan memakai Bruno Fernandes, Rafael Leão, dan Francisco Trincão dalam peran penyerang kedua. Ia ingin memahami karakteristik setiap pemain sebelum menyesuaikannya dengan sistem Portugal.

“Dalam ide saya, ada lebih banyak striker kedua daripada gelandang ketiga, jadi ada beberapa pemain selain Félix yang bisa memainkan posisi itu, seperti Bruno Fernandes, Rafael Leão, dan Francisco Trincão. Saya perlu memahami karakteristik bermain mereka untuk menyesuaikannya dengan ide-ide saya”, jelasnya.

Menurut Jesus, setiap pelatih memiliki gagasan masing-masing tentang permainan. Karena itu, ia ingin membangun pendekatan Portugal berdasarkan kualitas pemain yang tersedia serta pengalaman mereka di klub.

“Setiap pelatih memiliki ide mereka sendiri tentang permainan, dan saya memiliki pendapat saya tentang apa yang saya inginkan untuk Tim Nasional, percaya pada kualitas para pemain dan apa yang telah kami lakukan di klub yang kami wakili”, tutur Jesus.

Dari empat pemain baru, Jesus sudah mengenal tiga nama karena pernah bekerja bersama mereka. Ketiganya adalah Samuel Soares, João Palhinha, dan Nuno Tavares. Sementara Fábio Silva menjadi satu-satunya pemain baru yang belum pernah bekerja langsung dengannya.

“Dari empat pemain baru, selain dari Fábio Silva, semuanya bekerja dengan saya. Samuel Soares, João Palhinha, dan Nuno Tavares. Mereka bekerja dengan saya, dan saya dengan mereka. Kecuali untuk João, pada tahun 2030 mereka masih tidak akan berusia 30 tahun; mereka adalah pemain masa kini dan masa depan”, kata Jesus.

Fábio Silva Dapat Kesempatan

Fábio Silva menjadi salah satu pemain yang mendapat kesempatan dalam era baru Portugal. Penyerang tersebut mengaku senang kembali memperkuat tim nasional dan merasa memiliki karakter permainan yang berbeda.

“Pertama-tama, saya sangat senang berada di sini. Mengenai karakteristik yang dibicarakan pelatih, saya pikir saya adalah pemain depan yang memiliki kualitas yang sangat berbeda”, kata Fábio Silva.

Ia kemudian menjelaskan bahwa dirinya bukan tipe penyerang yang hanya menunggu bola di kotak penalti. Fábio Silva juga mampu turun untuk membantu membangun serangan dan bergerak ke area lain di lini depan.

“Saya bukan pemain tetap atau seseorang yang hanya menempel pada penandaan di dalam kotak. Saya bisa turun kembali untuk menghubungkan permainan dan pindah ke posisi lain di depan”, jelasnya.

Fábio Silva juga mampu meminta umpan dengan beberapa cara sesuai situasi permainan. “Saya bisa meminta umpan di kaki saya atau di ruang angkasa”, lanjut Fábio Silva.

Pengalaman di level klub membuat Fábio Silva merasa semakin matang. Ia mengakui kepindahan dari Porto ke kompetisi dengan tingkat tuntutan tinggi memberikan tantangan besar.

“Ketika saya pergi (FC Porto), saya tidak siap, terutama pergi ke liga terbaik di dunia, dengan tingkat permintaan yang sangat tinggi. Tapi itu membuat saya tumbuh dan belajar”, ujarnya.

Menurutnya, berbagai pengalaman tersebut membuat dirinya berkembang sebagai pemain. Namun, Fábio Silva tetap menyadari bahwa masih ada banyak aspek yang perlu diperbaiki.

“Tempat-tempat yang telah saya berikan kepada saya banyak kedewasaan. Saya merasa seperti pemain yang sangat lengkap, tetapi belum sempurna”, katanya.

Ia kemudian menegaskan keinginannya untuk terus berkembang dan menyempurnakan kemampuan. “Saya masih memiliki banyak hal untuk ditingkatkan dan disempurnakan. Saya merasa lebih baik dan lebih baik, lebih bahagia dan lebih siap”, tambah Fábio Silva.

Fábio Silva Ingin Belajar dari Jorge Jesus

Fábio Silva belum pernah bekerja langsung bersama Jorge Jesus. Meski begitu, ia sudah mengikuti perjalanan karier sang pelatih dan mengetahui reputasinya dalam mengembangkan pemain.

“Saya belum pernah bekerja dengan pelatih Jorge Jesus sebelumnya, tetapi tentu saja saya selalu mengikuti karirnya, yang semua orang tahu. Dia tidak perlu diperkenalkan. Tidak perlu berbicara tentang prestasinya”, ujar Fábio Silva.

Menurutnya, pengalaman sejumlah pemain yang berkembang di bawah Jesus menjadi alasan tambahan untuk memanfaatkan kesempatan tersebut. “Saya salah satu dari sedikit di sini yang tidak bekerja dengannya, tetapi saya tahu berapa banyak pemain meningkat di bawahnya. Aku ingin belajar banyak”, katanya.

Fábio Silva juga berharap pengalaman tersebut membuatnya berkembang sebagai pemain Portugal. “Saya akan menjadi pemain yang lebih baik, itulah yang saya fokuskan”, tegasnya.

Fábio Silva Nikmati Momen Bersama Ronaldo

Kesempatan berada satu tim dengan Cristiano Ronaldo memiliki arti khusus bagi Fábio Silva. Ia mengagumi kapten Portugal tersebut sejak masih kecil dan ingin memanfaatkan setiap kesempatan untuk belajar.

“Senang berada di sini dan bisa belajar darinya (Ronaldo). Dia adalah idola, orang yang selalu saya kagumi sejak saya masih kecil”, kata Fábio Silva. Penyerang klub Bundesliga Borussia Dortmund itu ingin memahami hal-hal yang bisa ia pelajari dari Ronaldo selama berada bersama tim nasional.

“Saya selalu menginginkan kesempatan untuk memiliki momen-momen ini bersamanya. Saya mencoba belajar darinya, untuk mengetahui apa yang bisa saya tingkatkan, dan itulah yang akan saya fokuskan”, lanjutnya.

Menurut Fábio Silva, kualitas Ronaldo sudah dikenal luas. Karena itu, berada satu tim dengan sang kapten menjadi pengalaman yang sangat berarti baginya. “Semua orang tahu nilainya, dan itu adalah sumber kebanggaan bagi saya untuk menikmati saat-saat ini bersamanya”, tuturnya.

Wales Bawa Pengalaman Premier League

Di sisi lain, Wales datang ke Lisbon dengan sejumlah pemain yang memiliki pengalaman di Premier League. Craig Bellamy masih mengandalkan beberapa nama dengan jam terbang tinggi di kompetisi Inggris.

Benjamin Davies dari Tottenham Hotspur menjadi salah satu tumpuan di lini belakang. Neco Williams memberikan ancaman dari sisi kiri, sedangkan Ethan Ampadu menjadi pilihan penting di lini tengah.

The Dragons juga memiliki beberapa pemain berbahaya dari sektor sayap. David Brooks, Brennan Johnson, Sorba Thomas, dan Daniel James dapat menghadirkan kecepatan dalam serangan. Namun, Wales kehilangan dua pemain dari Leeds United. Joe Rodon dan Harry Wilson tidak tersedia untuk pertandingan ini.

Craig Bellamy menyiapkan Danny Ward, Tom King, dan David Cornell untuk posisi penjaga gawang. Di lini belakang terdapat Ben Davies, Connor Roberts, Neco Williams, Chris Mepham, Rhys Norrington-Davies, Ben Cabango, Jay Dasilva, dan Jay Lienou.

Sementara itu, sektor tengah Wales berisi Ethan Ampadu, Jordan James, Josh Sheehan, Liam Cullen, Wes Burns, Joel Colwill, dan Cameron Congreve.

Portugal membawa Diogo Costa, Rui Silva, dan Samuel Soares sebagai penjaga gawang. Rúben Dias, João Cancelo, Nuno Mendes, Diogo Dalot, Gonçalo Inácio, Renato Veiga, Tomás Araújo, dan Nuno Tavares mengisi lini pertahanan.

Untuk sektor tengah, Jesus memiliki Bernardo Silva, Bruno Fernandes, Rúben Neves, Vitinha, serta João Palhinha. Ia masih memiliki sejumlah pilihan lain untuk menyesuaikan komposisi dengan pendekatan yang ingin diterapkan.

Portugal vs Wales Jadi Ujian Perdana

Portugal dan Wales memiliki sejarah pertemuan yang cukup panjang. Tiga pertemuan pertama kedua negara berlangsung dalam pertandingan persahabatan. Pertemuan terakhir dalam format tersebut terjadi pada 2000 di Chaves. Portugal menang 3-0 melalui gol Luís Figo, Ricardo Sá Pinto, dan Capucho.

Kedua negara kemudian bertemu dalam laga kompetitif pada semifinal Euro 2016 di Lyon. Ronaldo membuka keunggulan Portugal sebelum memberikan assist untuk gol Nani. Portugal menang 2-0 dan kemudian melanjutkan perjalanan hingga menjadi juara turnamen.

Kini, Portugal dan Wales kembali bertemu dalam pertandingan resmi. Jorge Jesus akan memimpin Portugal untuk pertama kalinya, sedangkan Wales berusaha memberikan kejutan pada laga pembuka UEFA Nations League 2026/2027.

Pertandingan di Estádio José Alvalade menjadi kesempatan bagi Jesus untuk menerapkan gagasannya dalam pertandingan resmi. Bagi Fábio Silva dan sejumlah pemain baru lainnya, laga tersebut juga menjadi panggung untuk menunjukkan kemampuan sekaligus membangun tempat dalam skuad Portugal. (MR-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *