Mataredaksi.com, CIANJUR – Setelah sempat roboh dan menghilang selama lebih dari satu tahun, patung ikonik ‘Kuda Kosong’ di Kecamatan Sukaluyu, Kabupaten Cianjur, kembali berdiri tegak.
Patung yang selama ini menjadi simbol sejarah dan kebudayaan masyarakat Cianjur itu kini tampil lebih gagah, dengan ornamen baru yang memperkuat kesan sakral dan estetik.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan mengalokasikan dana sebesar Rp 199 juta untuk membangun ulang tugu tersebut.
Kuda berwarna hitam yang dulunya berdiri dengan satu kaki terangkat, kini tampil dalam pose dua kaki depan terangkat, lengkap dengan tambahan hiasan kain hijau emas di punggungnya.
“Seperti yang kita ketahui, Kuda Kosong itu bagian dari sejarah Cianjur. Makanya dibangun ulang sebagai tugu sekaligus simbol kebudayaan”, ujar Pejabat Fungsional Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan Kabupaten Cianjur, Dhany Surya, Kamis (31/7/2025).
Dhany menjelaskan, perubahan pose kaki kuda yang kini mengangkat dua kaki sekaligus, bermakna semangat baru. “Dengan pose kaki naik itu menunjukan semangat. Harapannya bisa meningkatkan semangat masyarakat Cianjur di era baru ini”, tambahnya.
Patung Kuda Kosong sebelumnya roboh pada Februari 2024. Sejak saat itu, warga hanya melihat pondasi kosong tanpa patung di atasnya. Banyak masyarakat Cianjur merasa kehilangan, mengingat kuatnya nilai historis dan simbolik patung tersebut.
Dalam sejarahnya, Kuda Kosong merupakan hadiah dari Kesultanan Mataram untuk para pendiri Cianjur sebagai bentuk diplomasi. Namun, karena tidak ada penunggangnya, masyarakat setempat menyebutnya sebagai kuda kosong.
Tak sedikit pula yang percaya, patung ini punya makna spiritual karena dikaitkan dengan legenda Raden Suryakencana, sosok gaib penjaga Gunung Gede, yang dipercaya menaiki kuda ini saat ditampilkan dalam festival budaya.
Kini, ikon legendaris itu kembali menjadi titik perhatian warga dan pelintas. Tidak hanya sebagai penanda kawasan Sukaluyu, tetapi juga sebagai pengingat akan akar budaya dan semangat yang tak lekang oleh waktu. (MR-4)





