Trump Geser Serangan Tarif, Asia Kena Imbas Lebih Luas – Dari China ke Seluruh Asia

Strategi Baru Trump: Dari Negosiasi ke Hukuman Tarif

BERPOSE untuk selfie di China. Negara ini masih menjadi simpul penting dalam rantai pasokan elektronik global yang membentang lintas Asia, dari komponen hingga perakitan akhir. (Sumber Foto: Getty Images)

Mataredaksi.com, ASIA – Presiden Donald Trump kembali menggencarkan kebijakan tarif untuk mendorong relokasi industri manufaktur ke Amerika Serikat. Tujuannya bukan semata menekan defisit perdagangan, melainkan juga menciptakan lapangan kerja yang adil bagi perusahaan AS yang bersaing di pasar global.

Setelah melalui negosiasi panjang dan penolakan dari banyak negara mitra, strategi Washington kini berubah menjadi pendekatan hukuman ekonomi.

Efek Langsung ke Asia

Sebelumnya, perusahaan-perusahaan AS mulai mengurangi ketergantungan pada China dengan mengalihkan produksi ke Vietnam, Thailand, dan India demi menghindari tarif yang lebih tinggi.

Namun, langkah baru Trump menyasar seluruh wilayah Asia. Bursa saham di Taiwan dan Korea Selatan langsung tertekan, dengan indeks utama jatuh pada Jumat pagi.

Kedua negara tersebut merupakan simpul penting dalam rantai produksi elektronik global. Rantai ini kini terguncang karena banyak perusahaan AS seperti Apple dan Nvidia mengandalkan komponen serta perakitan dari negara-negara Asia.

Terjebak dalam Ketidakpastian

Apple, misalnya, memproduksi mayoritas iPhone untuk pasar Amerika Serikat di India dan Vietnam, setelah sebelumnya sangat bergantung pada China. Namun, kini negara-negara pengganti itu juga terkena tarif baru.

CEO Apple, Tim Cook, mengungkapkan bahwa tarif sebelumnya sudah membebani perusahaan sebesar 800 juta dolar AS pada kuartal lalu, dan berpotensi menambah 1,1 miliar dolar AS pada kuartal berikutnya.

Kebijakan tarif yang tidak konsisten ini mempersulit perencanaan jangka panjang. Amazon, misalnya, sangat bergantung pada produk dari China untuk memenuhi permintaan pasar domestik AS.

Strategi Tak Lagi Ampuh

Setelah gelombang tarif pertama, banyak perusahaan mengalihkan pengiriman barang ke AS melalui negara ketiga seperti Vietnam atau Thailand, yang dikenal sebagai strategi “China +1”.

Namun, kebijakan baru juga menargetkan barang-barang trans-pengiriman ini. Tarif atas impor dari Vietnam bisa mencapai 20%, sementara produk trans-shipped bisa dikenakan tarif hingga 40%.

Lebih dari separuh chip semikonduktor dunia diproduksi di Taiwan, termasuk chip canggih yang dibuat oleh TSMC dan digunakan oleh perusahaan AS seperti Nvidia.

Tarif sebesar 20% terhadap komponen ini menambah tekanan besar pada industri teknologi global sekaligus menimbulkan dilema strategis: AS membutuhkan chip Taiwan untuk unggul dalam kompetisi teknologi melawan China, namun kebijakan tarif justru mempersulit akses ke sumber vital tersebut.

Langkah mengejutkan lainnya adalah pencabutan aturan “de minimis” yang sebelumnya membebaskan paket di bawah 800 dolar AS dari bea masuk. Kebijakan ini awalnya menyasar paket dari China dan Hong Kong – pukulan telak bagi ritel daring seperti Shein dan Temu.

Kini, kebijakan serupa juga berlaku untuk platform AS seperti eBay dan Etsy. Hasilnya, harga barang bekas, buatan tangan, dan vintage diperkirakan akan naik untuk konsumen AS.

Pukulan Berdampak ke AS

Kebijakan tarif Trump mungkin bertujuan melindungi lapangan kerja dalam negeri, tetapi dalam dunia yang sangat terhubung secara global, dampaknya tidak berhenti di luar perbatasan. Perusahaan-perusahaan dan konsumen AS sendiri kemungkinan akan menanggung biaya tambahan.

Dengan negosiasi dagang yang masih penuh ketidakpastian dan batas waktu hingga 12 Agustus bagi kesepakatan baru, belum jelas siapa sebenarnya yang akan keluar sebagai pemenang dari strategi ini. (MR-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *